GADIS BAR
Oleh: Dea Anugrah
tiga botol bir
di meja bulat di depanku
menyimpan rapi
sebungkus senyum
& warna kulit punggungmu
yang ranum.
dari pintu itu,
—yang sengaja kamu buka
kusaksikan di luar
malam semakin bercahaya
sebab lampu lampu neon
dan lampu lampu bukan neon
begitu murah menjajakan cinta
juga keindahan.
hai, aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
dalam sebuah prosa
atau barangkali puisi
: tentang gadis manis yang menawan
seperti kupu berwarna sendu
yang menghiasi taman taman
tetapi bukan
kupu kupu hitam
bersarang
di balik sinar neon
yang terkadang
mesti rela untuk
dicium atau dipeluk
lalat lalat busuk.
hai, aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
dalam sebuah prosa
atau barangkali puisi
: tentang seorang gadis
yang hidupnya begitu manis
serupa daunan basah dan kabut
di sela sela rinai gerimis
tetapi bukan
gadis malang berpinggul bagus
yang kutemui di bar pada kerlip malam
ketika aku tak hendak menulis
atau membayangkan
puisi tentang kabut dan gerimis.
aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
tetapi bukan
sebagai namamu. hai!
Jogja, November 2009
Rabu, 11 November 2009
Kamis, 05 November 2009
SAJAK CINTA DI UMUR ENAMPULUH EMPAT TAHUN
SAJAK CINTA DI UMUR ENAMPULUH EMPAT TAHUN
Oleh: Dea Anugrah
dalam perbincangan seusai senja itu
kau terasa begitu puisi:
pasir pantai dan rinai rinai
hujan di masa kecilku menari nari dan menganaksungai
di kedalaman lesung pipimu.
o demi kedua bola matamu yang sendu
kugosokkan kedua telapak tanganku agar hangat. agar lamat lamat
dapat kusekakan tangismu. dan kupindahkan duka
dan kupindahkan airmata
ke wajah rembulan yang nestapa.
bibir atas dan bibir bawahmu
yang merah muda mengeluhkan cintaku yang
menurutmu semakin habis saja. getarnya pelan dan lemah.
seperti kesunyian yang rutin merangkak rangkaki punggung kota. aku diam.
aku selalu diam kalau sedang duka atau jatuh cinta.
ah, sekarang kaupun ikut diam. suara jangkrik dan rayuan jalang
bunga bunga di bawah jendela
menggantikan keluhanmu. sebuah radio buruk di atas meja
berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menikam.
—cara yang bagus untuk bunuh diri. sementara malam semakin kelam
dan bulan memucat seperti geliat sepi.
menatap kulit pipimu yang kuning
dan harum mengingatkanku akan ciuman ciuman
yang dulu saling kita berikan. bagai kupu kupu yang tidak kian
lelah mengepakkan sayapnya yang biru kehijau hijauan.
tetapi di pipimu yang kuning dan harum itu
kini ada sebaris peringatan dan tanda seru:
“o cintamu telah berkurang!”
dadaku sesak membayangkan kau menangis di kamar kecil di malam malam
ketika aku pulas tertidur dan tak sadar bahwa cintaku telah berkurang.
waktu tak pernah ambil pusing dengan permasalahan kita. dengan
airmatamu dan diamku. atau
dengan bibir merah mudamu dan sisa sisa ciumanmu di leherku.
waktu terus saja menjalankan tik toknya
seperti cicak terus terus membunyikan cak caknya.
tetapi bukanlah waktu yang membikin kita harus bersegera
melainkan aku yang tidak ingin
membuatmu jadi kering dan tua: bagaimana kalau kita
selesaikan saja
cinta ini dengan pucat?
di atas meja di dalam kaca jendela
sebuah radio buruk
kembali
menggumamkan berita
tentang sepasang
kekasih
yangbunuhdiri.
(2009)
Oleh: Dea Anugrah
dalam perbincangan seusai senja itu
kau terasa begitu puisi:
pasir pantai dan rinai rinai
hujan di masa kecilku menari nari dan menganaksungai
di kedalaman lesung pipimu.
o demi kedua bola matamu yang sendu
kugosokkan kedua telapak tanganku agar hangat. agar lamat lamat
dapat kusekakan tangismu. dan kupindahkan duka
dan kupindahkan airmata
ke wajah rembulan yang nestapa.
bibir atas dan bibir bawahmu
yang merah muda mengeluhkan cintaku yang
menurutmu semakin habis saja. getarnya pelan dan lemah.
seperti kesunyian yang rutin merangkak rangkaki punggung kota. aku diam.
aku selalu diam kalau sedang duka atau jatuh cinta.
ah, sekarang kaupun ikut diam. suara jangkrik dan rayuan jalang
bunga bunga di bawah jendela
menggantikan keluhanmu. sebuah radio buruk di atas meja
berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menikam.
—cara yang bagus untuk bunuh diri. sementara malam semakin kelam
dan bulan memucat seperti geliat sepi.
menatap kulit pipimu yang kuning
dan harum mengingatkanku akan ciuman ciuman
yang dulu saling kita berikan. bagai kupu kupu yang tidak kian
lelah mengepakkan sayapnya yang biru kehijau hijauan.
tetapi di pipimu yang kuning dan harum itu
kini ada sebaris peringatan dan tanda seru:
“o cintamu telah berkurang!”
dadaku sesak membayangkan kau menangis di kamar kecil di malam malam
ketika aku pulas tertidur dan tak sadar bahwa cintaku telah berkurang.
waktu tak pernah ambil pusing dengan permasalahan kita. dengan
airmatamu dan diamku. atau
dengan bibir merah mudamu dan sisa sisa ciumanmu di leherku.
waktu terus saja menjalankan tik toknya
seperti cicak terus terus membunyikan cak caknya.
tetapi bukanlah waktu yang membikin kita harus bersegera
melainkan aku yang tidak ingin
membuatmu jadi kering dan tua: bagaimana kalau kita
selesaikan saja
cinta ini dengan pucat?
di atas meja di dalam kaca jendela
sebuah radio buruk
kembali
menggumamkan berita
tentang sepasang
kekasih
yangbunuhdiri.
(2009)
Selasa, 27 Oktober 2009
INI TIDAK TERJADI DI JEMBATAN GOLDEN GATE
INI TIDAK TERJADI DI JEMBATAN GOLDEN GATE
Oleh: Dea Anugrah
ia berdiri menekur di ujung bukit. sesekali diregangkannya badan
lebar lebar. sementara matanya terpejam
dan udara dingin merasuk keluar masuk paru parunya. ia terus
berharap agar dirinya dapat menjelma angin. melayang
ke bukit ke lembah lembah. meluncur di sela sela daun. membelai belai kesedihan
lantas menghapuskan sisa sisa kabut dari
tembok rumahnya yang doyong. “kenapa tak kau habiskan dulu tangisku, nona?”,
tanyaku sebelum memintanya untuk
mengakhirkan perjumpaan kami. di belakangku jalan jalan setapak
belukar dan semak semak tampak begitu lembab.
padahal disini hujan tidak ada, padahal airmata tidak pernah ngalir
dengan cukup basah.
“o, hidup memang memilukan”, aku berbicara lagi, kali ini seperti mengeluh. ia tersenyum
lalu merentangkan tangannya jauh jauh. jemarinya perlahan
menembusi kupingku dua dua. dan dari mulutku yang sedikit terbuka
muncullah tiga jembalang. pelan pelan mereka dorong
gadis kecil itu dari gigir
—bukit
dan—
seorang gadis kecil
bisa saja menjadi angin
dalam sebuah sajak yang kelewat sentimentil.
(2009)
Oleh: Dea Anugrah
ia berdiri menekur di ujung bukit. sesekali diregangkannya badan
lebar lebar. sementara matanya terpejam
dan udara dingin merasuk keluar masuk paru parunya. ia terus
berharap agar dirinya dapat menjelma angin. melayang
ke bukit ke lembah lembah. meluncur di sela sela daun. membelai belai kesedihan
lantas menghapuskan sisa sisa kabut dari
tembok rumahnya yang doyong. “kenapa tak kau habiskan dulu tangisku, nona?”,
tanyaku sebelum memintanya untuk
mengakhirkan perjumpaan kami. di belakangku jalan jalan setapak
belukar dan semak semak tampak begitu lembab.
padahal disini hujan tidak ada, padahal airmata tidak pernah ngalir
dengan cukup basah.
“o, hidup memang memilukan”, aku berbicara lagi, kali ini seperti mengeluh. ia tersenyum
lalu merentangkan tangannya jauh jauh. jemarinya perlahan
menembusi kupingku dua dua. dan dari mulutku yang sedikit terbuka
muncullah tiga jembalang. pelan pelan mereka dorong
gadis kecil itu dari gigir
—bukit
dan—
seorang gadis kecil
bisa saja menjadi angin
dalam sebuah sajak yang kelewat sentimentil.
(2009)
Selasa, 20 Oktober 2009
SOLILOKUI
SOLILOKUI
Oleh: Dea Anugrah
dari atas sebuah ranting
diam diam ia mengawasimu.
betapa guguran dan buih
malam yang kau seka dari bibirmu
selalu mengingatkannya akan empedu
k e k o s o n g a n.
ia memang terlahir buta
kunang kunang dan bintang bintang
pun terus saja meninggalkannya
seperti empati yang kau buang
begitu jauh kedalam mimpi kanak kanakmu. tetapi, dari pucuk sebuah ranting
ia tetap menatapmu.
ya, ia tak perlu mata
karena baginya, gelap tak berarti
kehabisan cahaya.
ah, kunamai ia malam
sementara kau sebut ia kematian.
entah aku ataukah kau yang salah menamainya, ya?.
atau di antara kita tak ada yang salah?
entahlah, ini begitu sulit ditentukan. sebab setahuku, selalu ada yang harus dipersalahkan.
selalu ada yang dipaksakan menanggung beban.
seperti diri di kedalaman solilokui.
seperti kau membenci airmata,
lalu kesunyian juga.
Jogja, 2009
Oleh: Dea Anugrah
dari atas sebuah ranting
diam diam ia mengawasimu.
betapa guguran dan buih
malam yang kau seka dari bibirmu
selalu mengingatkannya akan empedu
k e k o s o n g a n.
ia memang terlahir buta
kunang kunang dan bintang bintang
pun terus saja meninggalkannya
seperti empati yang kau buang
begitu jauh kedalam mimpi kanak kanakmu. tetapi, dari pucuk sebuah ranting
ia tetap menatapmu.
ya, ia tak perlu mata
karena baginya, gelap tak berarti
kehabisan cahaya.
ah, kunamai ia malam
sementara kau sebut ia kematian.
entah aku ataukah kau yang salah menamainya, ya?.
atau di antara kita tak ada yang salah?
entahlah, ini begitu sulit ditentukan. sebab setahuku, selalu ada yang harus dipersalahkan.
selalu ada yang dipaksakan menanggung beban.
seperti diri di kedalaman solilokui.
seperti kau membenci airmata,
lalu kesunyian juga.
Jogja, 2009
MALAM KOTA
MALAM KOTA
Oleh: Dea Anugrah
menghitung duabelas kali dentang menara jam
yang pandir
dan jerit kelelawar yang
menyobek nyobek semilir
kusadari orang orang
begitu mudah dilupakan
dan nama kapan saja bisa hilang
seperti kau mengerti
bisunya pisau
--atau tiang gantungan.
ah, yakin dan ragu
selalu datang bergiliran. bak luka.
lalu menyecapkan kerinduan dan beku
pada pintu pintu kamarku yang masih terbuka.
(2009)
Oleh: Dea Anugrah
menghitung duabelas kali dentang menara jam
yang pandir
dan jerit kelelawar yang
menyobek nyobek semilir
kusadari orang orang
begitu mudah dilupakan
dan nama kapan saja bisa hilang
seperti kau mengerti
bisunya pisau
--atau tiang gantungan.
ah, yakin dan ragu
selalu datang bergiliran. bak luka.
lalu menyecapkan kerinduan dan beku
pada pintu pintu kamarku yang masih terbuka.
(2009)
KEPADA PISAU
KEPADA PISAU
Oleh: Dea Anugrah
airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
Oleh: Dea Anugrah
airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
Sabtu, 10 Oktober 2009
PADA LEKUK BIBIRMU
PADA LEKUK BIBIRMU
Oleh: Dea Anugrah
pada lekuk bibirmu kukenangkan masa kanakku
kesunyapan warna senja dan gemelesak rumputan basah
udaranya lengang, tak ada sekepakpun serangga
mengusik kesunyian. hanya segara beraroma mawar
dari kejauhan menatapku nanar.
nampak jua kupu kupu mabuk sedang merangkaki tepi danau.
sepi telah melumerkan sayapnya. seperti sisa sisa malam yang tandas
dihirup oleh kerinduan
ku padamu.
“apakah cinta mesti bermuara pada kasur
atau selembar tisu?”, kau bertanya. aku tertegun.
aku tertegun kalau sedang duka atau jatuh cinta. di sebalik
pohonan burung burung mengepak deras. sekencangnya mereka hendak pulang.
sebab tiap betinanya bersiap mengunci lawang.
ah, betinaku
aku membatu.
kenapa tak segera mengajakku pulang, lalu mengunci pintu?
padahal di kantongku sudah menunggu
sehelai tisu
bertuliskan puisi untukmu. ya, tentu saja untukmu.
tentu saja bukan untuk gempa yang merusak pintu
rumah kita. ah, pada lekuk bibirmu
yang biru. tak sudah airmataku.
Jogja, Oktober 2009
Oleh: Dea Anugrah
pada lekuk bibirmu kukenangkan masa kanakku
kesunyapan warna senja dan gemelesak rumputan basah
udaranya lengang, tak ada sekepakpun serangga
mengusik kesunyian. hanya segara beraroma mawar
dari kejauhan menatapku nanar.
nampak jua kupu kupu mabuk sedang merangkaki tepi danau.
sepi telah melumerkan sayapnya. seperti sisa sisa malam yang tandas
dihirup oleh kerinduan
ku padamu.
“apakah cinta mesti bermuara pada kasur
atau selembar tisu?”, kau bertanya. aku tertegun.
aku tertegun kalau sedang duka atau jatuh cinta. di sebalik
pohonan burung burung mengepak deras. sekencangnya mereka hendak pulang.
sebab tiap betinanya bersiap mengunci lawang.
ah, betinaku
aku membatu.
kenapa tak segera mengajakku pulang, lalu mengunci pintu?
padahal di kantongku sudah menunggu
sehelai tisu
bertuliskan puisi untukmu. ya, tentu saja untukmu.
tentu saja bukan untuk gempa yang merusak pintu
rumah kita. ah, pada lekuk bibirmu
yang biru. tak sudah airmataku.
Jogja, Oktober 2009
Rabu, 07 Oktober 2009
KAU ADALAH KERAGUANKU UNTUK MENULIS SAJAK CINTA
KAU ADALAH KERAGUANKU UNTUK MENULIS SAJAK CINTA
Oleh: Dea Anugrah
langit gulita
malam mati. sepasang
kelelawar berdekap
di rimbun pohonan.
diterangi anak anak
rembulan bersayap lilin.
kastil tua berlanskap gotik
menyimpan dingin yang getir.
di dalamnya
seorang penyair menggigil.
sementara keringat membasahi tengkuk
dan kerah bajunya
setumpuk mawar
menikam hatinya.
hei, malam ini…
adalah malam tersulit untukku.
meskipun tak pernah kita
berkenalan. atau menari bersama. tapi
bagaimana bisa kulewatkan getar
yang menggoncangkan dada, yang menerbarkan bau
kematian dalam tiap tiap kata?
“pesanlah segelas kopi, atau berbaringlah barang sejenak”, bisik lukisan di dinding.
“tidak, tidak. kopi dan sofa hanya akan mempertajam bau kematian”, jawabku
dari jendela
kusaksikan asmodeus
memimpin ribuan ghoul
di halaman kastil
mengutuk-sumpahi surga.
sayang,
kaulah keraguanku untuk menulis sajak cinta…
Jogjakarta, Oktober 2009
Oleh: Dea Anugrah
langit gulita
malam mati. sepasang
kelelawar berdekap
di rimbun pohonan.
diterangi anak anak
rembulan bersayap lilin.
kastil tua berlanskap gotik
menyimpan dingin yang getir.
di dalamnya
seorang penyair menggigil.
sementara keringat membasahi tengkuk
dan kerah bajunya
setumpuk mawar
menikam hatinya.
hei, malam ini…
adalah malam tersulit untukku.
meskipun tak pernah kita
berkenalan. atau menari bersama. tapi
bagaimana bisa kulewatkan getar
yang menggoncangkan dada, yang menerbarkan bau
kematian dalam tiap tiap kata?
“pesanlah segelas kopi, atau berbaringlah barang sejenak”, bisik lukisan di dinding.
“tidak, tidak. kopi dan sofa hanya akan mempertajam bau kematian”, jawabku
dari jendela
kusaksikan asmodeus
memimpin ribuan ghoul
di halaman kastil
mengutuk-sumpahi surga.
sayang,
kaulah keraguanku untuk menulis sajak cinta…
Jogjakarta, Oktober 2009
Jumat, 02 Oktober 2009
SURAT-SAJAK BUAT SAMPAH
SURAT-SAJAK BUAT SAMPAH
Oleh: Dea Anugrah
sampah, pulanglah ke kotaku
sebab hujan telah menggunung
menimbun gemawan rindu
menyesaki pohonan
kata kata yang harusnya menjadi puisi tentangmu
sampah, jangan kau salah sangka
kotaku bukan tak lagi menginginkanmu
tapi hujan yang hadir menggantikanmu
begitu liris dan romantis, bagai gula gula
atau rambut rambut tipis di payudara
membikin penyair penyair salon bergelora
“kenapa kebanyakan orang di kotamu lebih suka hujan ketimbang aku?”, tanyamu heran kepadaku
“bukan begitu”, jawabku
“lantas kenapa?”, tanyamu lagi
“sebab perempuan dan koran koran minggu
lebih suka puisi tentang hujan, barangkali”
“cis! sajak tentang sampah itu tidak estetis”, desis seorang penyair berkumis klimis yang sedang berenang renang dengan manis
amen!
kau boleh tertawa,
justru memang harus tertawa
sebab aku juga tertawa,
sebab mereka terlalu jumawa
sementara di sekitar mereka
rasa humor dan kelucuan amat dijaga
: kanak kanak botak tokak tokak menyobek tetek ibunya yang sudah lembek untuk mengais sisa sisa susu. perempuan perempuan tua berhari berdiri mengantri kupon kupon perpanjangan umur. polisi polisi dan tentara tentara tak mau lagi pakai celana, “lihat! lihat! aku punya garuda! empatpuluh lima jumlah bulu ekornya”, ucap mereka bangga.
begitulah yang terjadi di kotaku, sampah
semenjak kau merasa tersingkir, terusir dilupakan banyak penyair
puisi puisi menjadi remeh, menjadi sekedar
kata kata indah tentang semilir
angin, anggur, kelamin dan rembulan
tiada lagi anatomi penyiksaan, bocah belang atau sebatang lisong
yang merongrong kaki kaki kursi kekuasaan.
sampah, pulanglah
kunantikan kau di jalan jalan lengang
di kotaku yang rapuh.
Jogja, 1 oktober 2009
Catatan: Anatomi Penyiksaan adalah judul salah satu puisi Saut Situmorang dalam buku “Otobiografi”, ([sic], 2009); Bocah Belang adalah judul salah satu puisi Dea Anugrah dalam buku “Penyair (itu) Bodoh”, (dalam proses terbit) dan Sebatang Lisong dalam puisi di atas merujuk kepada Sajak Sebatang Lisong karya Rendra.
Oleh: Dea Anugrah
sampah, pulanglah ke kotaku
sebab hujan telah menggunung
menimbun gemawan rindu
menyesaki pohonan
kata kata yang harusnya menjadi puisi tentangmu
sampah, jangan kau salah sangka
kotaku bukan tak lagi menginginkanmu
tapi hujan yang hadir menggantikanmu
begitu liris dan romantis, bagai gula gula
atau rambut rambut tipis di payudara
membikin penyair penyair salon bergelora
“kenapa kebanyakan orang di kotamu lebih suka hujan ketimbang aku?”, tanyamu heran kepadaku
“bukan begitu”, jawabku
“lantas kenapa?”, tanyamu lagi
“sebab perempuan dan koran koran minggu
lebih suka puisi tentang hujan, barangkali”
“cis! sajak tentang sampah itu tidak estetis”, desis seorang penyair berkumis klimis yang sedang berenang renang dengan manis
amen!
kau boleh tertawa,
justru memang harus tertawa
sebab aku juga tertawa,
sebab mereka terlalu jumawa
sementara di sekitar mereka
rasa humor dan kelucuan amat dijaga
: kanak kanak botak tokak tokak menyobek tetek ibunya yang sudah lembek untuk mengais sisa sisa susu. perempuan perempuan tua berhari berdiri mengantri kupon kupon perpanjangan umur. polisi polisi dan tentara tentara tak mau lagi pakai celana, “lihat! lihat! aku punya garuda! empatpuluh lima jumlah bulu ekornya”, ucap mereka bangga.
begitulah yang terjadi di kotaku, sampah
semenjak kau merasa tersingkir, terusir dilupakan banyak penyair
puisi puisi menjadi remeh, menjadi sekedar
kata kata indah tentang semilir
angin, anggur, kelamin dan rembulan
tiada lagi anatomi penyiksaan, bocah belang atau sebatang lisong
yang merongrong kaki kaki kursi kekuasaan.
sampah, pulanglah
kunantikan kau di jalan jalan lengang
di kotaku yang rapuh.
Jogja, 1 oktober 2009
Catatan: Anatomi Penyiksaan adalah judul salah satu puisi Saut Situmorang dalam buku “Otobiografi”, ([sic], 2009); Bocah Belang adalah judul salah satu puisi Dea Anugrah dalam buku “Penyair (itu) Bodoh”, (dalam proses terbit) dan Sebatang Lisong dalam puisi di atas merujuk kepada Sajak Sebatang Lisong karya Rendra.
Kamis, 17 September 2009
Tentang Film Kau Itu
: dea anugrah
Oleh: Pringadi Abdi
malam angslup
ke balik dada
tujuh mutiara
telah kosa
yo ho yo, teriakmu
dari balik mata
apa masih
ada puisi
di balik galian timah?
atau tinggal cerita
yang kita saksikan
di layar sekian inchi
oleh para artis
yang tampak autis?
yo ho yo,
aku tak mau bayar karcis
ini filmku sendiri
kampungku sendiri
yo ho yo,
mari mari
kita buat
film kita sendiri!
http://reinvandiritto.blogspot.com
Oleh: Pringadi Abdi
malam angslup
ke balik dada
tujuh mutiara
telah kosa
yo ho yo, teriakmu
dari balik mata
apa masih
ada puisi
di balik galian timah?
atau tinggal cerita
yang kita saksikan
di layar sekian inchi
oleh para artis
yang tampak autis?
yo ho yo,
aku tak mau bayar karcis
ini filmku sendiri
kampungku sendiri
yo ho yo,
mari mari
kita buat
film kita sendiri!
http://reinvandiritto.blogspot.com
Langgan:
Entri (Atom)



