seandainya kutulis
sebuah nama pada kulit trembesi
atau sebaris
frasa di atas bangku taman ini
akankah kita abadi?
dan kulihat kau meringis
—sedikit kernyit di pelipis.
“bangku ini dulu tak ada,” katamu
“dan siul belibis
yang dulu ada, punah
sejak taman ini diciptakan oleh bahasa”
dan kulihat kau mengulurkan tangan
seperti hendak menyentuhku
pada paras. lalu:
“barangkali akan selalu ada cemas,
seperti aku, memang tak selalu bisa meyakinkanmu”
dan kusentuhkan bibir pada ruas-ruas
jemari tangan itu.
anggaplah ini sebuah aforisma, ujarku
jawaban bagi kecemasan, atau
barangkali rasa takutmu.
“bagaimanakah...” bisikmu
—sembari menempatkan dagu pada bahuku
“jika akhirnya justru
kitalah yang saling mengkhianati?”
kusaksikan daun trembesi
perlahan terlepas
tapi kini aku hanya mengerti:
airmata begitu panas.
|A Portrait of Memories as a Young Dinosaur|
"Like a loud flight of birds, dark complexity, all my memories beating down on me..." (Paul Verlaine - The Nightingale)
Rabu, 01 Februari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012
Lamia
siapakah yang tak gemetar
pada malam, bayangan gergasi
yang sebentar
membikin puisi jadi pasi
dan orang-orang yang jaga
hangus dalam kenangan sendiri-sendiri?
lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan turun dari pundak sang gergasi
menyiasati kabut, menjadikan setiap tidur
asing bagi mimpi
ketika keajaiban masih ada
sebelum kita memerangi dewa-dewa
dari puncak gunung dan perut lembah
seseorang telah memarut kecantikannya
karena cemburu
maka lamia pun meletakkan dendam
di atas hatinya yang ganih
bagai garam bagi luka yang pedih
pada malam yang sebentar
ketika puisi hanya pasi, dan kenangan
jadi api yang membakar
lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan bernyanyi:
siapakah, siapakah yang tak gemetar
pada malam, pada gelap nasibnya sendiri...
pada malam, bayangan gergasi
yang sebentar
membikin puisi jadi pasi
dan orang-orang yang jaga
hangus dalam kenangan sendiri-sendiri?
lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan turun dari pundak sang gergasi
menyiasati kabut, menjadikan setiap tidur
asing bagi mimpi
ketika keajaiban masih ada
sebelum kita memerangi dewa-dewa
dari puncak gunung dan perut lembah
seseorang telah memarut kecantikannya
karena cemburu
maka lamia pun meletakkan dendam
di atas hatinya yang ganih
bagai garam bagi luka yang pedih
pada malam yang sebentar
ketika puisi hanya pasi, dan kenangan
jadi api yang membakar
lamia, perempuan telanjang
berkaki ular
akan bernyanyi:
siapakah, siapakah yang tak gemetar
pada malam, pada gelap nasibnya sendiri...
Label:
Puisi
Selasa, 10 Januari 2012
Jika Kematian Sampai Padaku
duduklah di dekatku, lalu menataplah
ke arah manapun yang kau mau
(tetapi jangan ke arah mataku)
dan kita akan saling memahami lewat diam
serta serangkaian isyarat yang mirip cuaca
maukah kau bercerita
tentang hal-hal yang tinggal
dan disisakan oleh sebuah
kematian?
(sisa yang mungkin tak ada, tapi selalu saja
kita bayangkan)
kata orang, ketika maut menjemput
dan ajal serupa tikungan yang sukar diperkirakan
dan terpaksa dilewati dengan sejumput
kecemasan
kita bakal mengenang segala
yang paling kita cintai
adakah, adakah dia terkenang
pada kantung di bawah matamu, pada tanda lahir
rahasia di tubuhmu, atau pada sepotong musik dari baltik?
jika sampai kematian padaku
akankah, akankah aku teringat
pada nafasnya yang lembut
dan beraroma, pada butiran mungil
keringat di hidungnya, atau pada khayal
riang tentang sebuah masa depan?
jika sampai kematian padaku
duduklah di dekatnya, dan biarkan
ia menatap kemanapun
(termasuk ke arah matamu)
sebab perempuan, kiranya perempuanlah
yang paling mengerti makna ketabahan.
ke arah manapun yang kau mau
(tetapi jangan ke arah mataku)
dan kita akan saling memahami lewat diam
serta serangkaian isyarat yang mirip cuaca
maukah kau bercerita
tentang hal-hal yang tinggal
dan disisakan oleh sebuah
kematian?
(sisa yang mungkin tak ada, tapi selalu saja
kita bayangkan)
kata orang, ketika maut menjemput
dan ajal serupa tikungan yang sukar diperkirakan
dan terpaksa dilewati dengan sejumput
kecemasan
kita bakal mengenang segala
yang paling kita cintai
adakah, adakah dia terkenang
pada kantung di bawah matamu, pada tanda lahir
rahasia di tubuhmu, atau pada sepotong musik dari baltik?
jika sampai kematian padaku
akankah, akankah aku teringat
pada nafasnya yang lembut
dan beraroma, pada butiran mungil
keringat di hidungnya, atau pada khayal
riang tentang sebuah masa depan?
jika sampai kematian padaku
duduklah di dekatnya, dan biarkan
ia menatap kemanapun
(termasuk ke arah matamu)
sebab perempuan, kiranya perempuanlah
yang paling mengerti makna ketabahan.
Label:
Puisi
Langgan:
Entri (Atom)